Blogroll

Search

TUHAN YESUS, INI OWE, A CONG….

December 29th, 2007 by hansherald
Ini sebuah kisah nyata yang menarik dan menyentuh. Ada seorang laki2paruh baya, umur 50 tahunan. Ia dipanggil A Cong (Ah Chong, ejaaninggrisnya). Miskin, tetapi jujur dan tekun. Kejujuran dan ketekunan itumendapat perhatian seorang pemilik toko material di daerah Glodok,Pinangsia, Jakarta . A Cong diangkatmenjadi CEO (chief exec.officer) atau penanggung jawab penuh tokotersebut. Usaha material itu meraup sukses luar biasa.

Sedemikian sibuknya A Cong di toko itu melayani pembeli, sampai ia taksempat makan dengan teratur. Bahkan tidak jarang ia makan sambil tetapmelayani.Tetapi, di tengah kesibukannya, setiap jam 12 siang ia menyempatkandiri berlari ke sebuah gereja di dekat situ. Dan itu ia lakukan tiaphari, sudah lebih dari tiga setengah tahun.

Sampai pada suatu hari kecurigaan seorang pastor memuncak .. ! Ia telahmemperhatikan dan mengamati fenomena aneh ini di gerejanya. A Congdatang dipintu gereja, hanya berdiri saja, membuat tanda salib, lalu segerabablas lagi.

Ritual itu setia dilakukan A Cong, tiap-tiap hari, itu-itu saja. Adakahudang dibalik batu??? Jangan2 ..... Romo yang penasaran itu mencarikesempatan menghadang si A Cong, dan bertanya tanpa basa-basi lagi: Maaf, Cek (panggilan menghormat bagi laki2 Tionghoa), kenapa Enceksaben hari datang jam 12begini, cuman berdiri aja di pintu, bikin tanda salib, terus cepet2pergi?" Kaget, si A Cong menjawab tersipu: "Hah?!... Lomo, owe iniolang sibuk, owepunya waktu seliki, tapi owe seneng dateng kemali."Jelas, Romo belum puas dan terus mendesak: Emangnya apa yang Enceklakukan di pintu gereja gitu?"Jawab A Cong dengan polos: "Ngga ada apa2. Benel Owe cuman bilang inidoang: Tuhan Yesus, ini owe, A Cong.Uuudah ."

Terbengong, hanya "Oh....!" yang bisa dilontarkan sang Romo. Dan A Congpun bergegas kembali ke tokonya.

Pada suatu hari A Cong sakit parah karena super sibuk dan makansekenanya, tidak teratur. Komplikasi penyakitnya cukup berat sehinggaia dilarikan kerumah sakit. A Cong bukan orang kaya, maka ia menempati kamar kelas 3,satu kamar dihuni 8 orang pasien. Sejak masuknya A Cong, kamar itu menjadiceria, penuh canda tawa.Tak terasa 3 bulan sudah A Cong dirawat. Ia punsembuhdan diperbolehkan pulang.

Ia gembira, tentunya, tetapi teman2 sekamarnya bersedih. Selama dirawatitu, semua sesama pasien dihiburnya. A Cong setiap pagi menghampiri teman2pasiennya, satu per satu, dan menanyakan keadaan masing2. Sayang,sekarang A Cong harus pulang dan kamar itu akan kembali sunyi.

Akhirnya salah seorang sesama pasien mencoba bertanya: "Eh Cek A Cong,mau nanya nih. Kenapa sih Encek begitu gembira, dan selalu gembira,padahal penyakit Encek ' kan serius?" Acong tercenung dan menjawab "saben ali yam lua welas, yah, ada olang laki lambut gondlong dateng,megang kaki saya, dia bilang: A Cong, ini aku, Yesus Kristus. Gimana owenggak seneng, coba..."

Moral of the story :Sesibuk-sibuknya kita,Sisihkan waktumu, untuk bersamaTuhan, ..

                        I LOVE THIS MAN

                        No one falls in love by choice,                        it is by CHANCE.                        No one stays in love by chance,                        it is by WORK.                        And no one falls out of love by chance,                        it is by CHOICE

                        scroll down                        |                        |                        |                        \/

			JESUS CHRIST                               If you love this man please forward to 10			 people.

                        He did something for you, now do something for 			him.

                        Spread his word, and you'll be rewarded.                        How will you be rewarded?                        Matthew 10:32 "Whoever acknowledges Me before 			men,                        I will acknowledge him before My Father in 			heaven.                        But whoever disowns Me before men, I will			disown                        him before My Father in heaven

                        

Posted in Religion | No Comments »

Untuk semua orang yang merasa berhak marah kepada Tuhan

December 29th, 2007 by hansherald

Have a blessing day…!

Pada tahun 1921, dua pasang suami istri dari
Stockholm (Swedia), menjawab
panggilan Allah untuk melayani misi penginjilan
diAfrika. Kedua pasang
suami istri ini menyerahkan hidupnya untuk
mengabarkan Injil dalam suatu
kebaktian pengutusan Injil. Mereka terbeban untuk

melayani negara
Belgian Kongo, yang sekarang bernama Zaire.
Mereka adalah David & Svea
Flood,
serta Joel & Bertha Erickson.

Setelah tiba di Zaire, mereka melapor ke kantor Misi

setempat. Lalu dengan menggunakan parang, mereka
membuka jalan melalui
hutan pedalaman yang dipenuhi nyamuk malaria.
David dan Svea membawa
anaknya David Jr. yang masih berumur 2 tahun.
Dalam perjalanan, David
Jr. terkena penyakit malaria.
Namun mereka pantang menyerah dan rela mati
untuk Pekerjaan Injil. Tiba
di tengah hutan, mereka menemukan sebuah desa di
pedalaman.
Namun penduduk desa ini tidak mengijinkan mereka
memasuki desanya. "Tak
boleh ada orang kulit putih
yang boleh masuk ke desa. Dewa-dewa kami akan
marah, "demikian kata
penduduk desa itu.

Karena tidak menemukan desa lain, mereka akhirnya

terpaksa tinggal di hutan dekat desa tersebut. Setelah

beberapa bulan
tinggal di tempat itu, mereka menderita kesepian dan

kekurangan gizi.
Selain itu, mereka juga jarang mendapat kesempatan

untuk berhubungan
dengan penduduk desa. Setelah enam bulan berlalu,

keluarga Erickson
memutuskan untuk kembali ke kantor misi.
Namun keluarga Flood memilih untuk tetap tinggal,

apalagi karena saat itu Svea baru hamil dan sedang

menderita malaria
yang cukup buruk. Di samping itu David juga
menginginkan agar anaknya
lahir di Afrika dan ia sudah bertekad untuk
memberikan hidupnya untuk
melayani di tempat tersebut.

Selama beberapa bulan Svea mencoba bertahan
melawan
demamnya yang semakin memburuk. Namun di
tengah keadaan seperti itu ia
masih menyediakan waktunya untuk
melakukan bimbingan rohani kepada seorang anak
kecil penduduk asli dari
desa tersebut.
Dapat dikatakan anak kecil itu adalah satu-satunya

hasil pelayanan Injil melalui keluarga Flood ini. Saat

Svea melayaninya,
anak kecil ini hanya tersenyum kepadanya. Penyakit

malaria yang diderita
Svea semakin
memburuk sampai ia hanya bisa berbaring saja. Tapi

bersyukur bayi
perempuannya berhasil lahir dengan selamat tidak
kurang suatu apa.
Namun Svea tidak mampu bertahan. Seminggu
kemudian keadaannya sangat
buruk dan menjelang kepergiannya, ia berbisik
kepada David, "Berikan
nama Aina pada anak
kita," lalu ia meninggal.

David amat sangat terpukul dengan kematian istrinya.

Ia membuat peti mati buat Svea, lalu
menguburkannya. Saat dia berdiri
di samping kuburan, ia memandang pada anak laki-
lakinya sambil
mendengar tangis bayi perempuannya dari dalam
gubuk yang terbuat dari
lumpur.Timbul kekecewaan yang sangat dalam di
hatinya. Dengan emosi yang
tidak terkontrol David berseru,
"Tuhan, mengapa Kau ijinkan hal ini terjadi?
Bukankah kami datang
kemari untuk memberikan hidup kami dan melayani
Engkau?! Istriku yang
cantik dan pandai,
sekarang telah tiada. Anak sulungku kini baru berumur

3 tahun dan nyaris tidak terurus, apalagi si kecil
yang
baru lahir.
Setahun lebih kami ada di hutan ini dan kami hanya

memenangkan seorang
anak kecil yang bahkan mungkin
belum cukup memahami berita Injil yang kami
ceritakan. Kau telah
mengecewakan aku, Tuhan. Betapa sia-sianya
hidupku!"
Kemudian David kembali ke kantor misi Afrika. Saat itu

David bertemu lagi dengan keluarga Erickson. David

berteriak dengan
penuh kejengkelan:

"Saya akan kembali ke Swedia! Saya tidak mampu
lagi
mengurus anak ini.
Saya ingin titipkan bayi perempuanku kepadamu."
Kemudian David memberikan
Aina kepada keluarga Erickson untuk dibesarkan.

Sepanjang perjalanan ke
Stockholm, David Flood berdiri di atas dek kapal. Ia

merasa sangat
kesal kepada Allah. Ia menceritakan kepada semua
orang
tentang pengalaman pahitnya, bahwa ia telah
mengorban kan segalanya
tetapi berakhir dengan kekecewaan. Ia yakin bahwa

ia sudah berlaku setia
tetapi Tuhan membalas
hal itu dengan cara tidak mempedulikannya.

Setelah tiba di Stockholm, David Flood memutuskan

untuk memulai usaha di bidang import. Ia
mengingatkan semua orang untuk
tidak menyebut nama Tuhan didepannya. Jika
mereka melakukan itu, segera
ia naik pitam dan marah.
David akhirnya terjatuh pada kebiasaan minum-
minuman
keras.
Tidak lama setelah David Flood meninggalkan Afrika,

pasangan suami-istri Erikson yang merawat Aina
meninggal karena diracun
oleh kepala suku dari
daerah dimana mereka layani. Selanjutnya si kecil

Aina diasuh oleh Arthur & Anna Berg. Keluarga ini

membawa Aina ke
sebuah desa yang bernama Masisi,
Utara Kongo. Di sana Aina dipanggil "Aggie". Si kecil

Aggie segera belajar bahasa Swahili dan bermain
dengan anak-anak Kongo.
Pada saat-saat sendirian si Aggie sering bermain
dengan khayalan. Ia
sering membayangkan bahwa ia
memiliki empat saudara laki-laki dan satu saudara

perempuan, dan ia memberi nama kepada masing-
masing saudara
khayalannya.

Kadang-kadang ia menyediakan meja untuk bercakap-

cakap dengan saudara
khayalannya.
Dalam khayalannya ia melihat bahwa saudara
perempuannya selalu memandang dirinya. Keluarga
Berg akhirnya kembali
ke Amerika dan menetap di Minneapolis.

Setelah
dewasa, Aggie berusaha
mencari ayahnya tapi
sia-sia.

Aggie menikah dengan Dewey Hurst, yang kemudian
menjadi presiden dari sekolah Alkitab Northwest Bible

College. Sampai
saat itu Aggie tidak mengetahui bahwa ayahnya telah

menikah lagi dengan
adik Svea, yang
tidak mengasihi Allah dan telah mempunyai anak lima,

empat putra dan
satu putri (tepat seperti khayalan Aggie). Suatu
ketika
Sekolah Alkitab
memberikan tiket pada Aggie dan suaminya untuk
pergi ke Swedia.
Ini merupakan kesempatan bagi Aggie untuk mencari

ayahnya. Saat tiba di
London, Aggie dan suaminya berjalan kaki di dekat

Royal Albert Hall.
Ditengah jalan mereka melihat ada suatu pertemuan

penginjilan. Lalu
mereka masuk dan mendengarkan
seorang pengkotbah kulit hitam yang sedang bersaksi

bahwa Tuhan sedang melakukan perkara besar di
Zaire. Hati Aggie
terperanjat.

Setelah selesai acara ia mendekati pengkotbah itu dan

bertanya, "Pernahkah anda mengetahui pasangan
penginjil yang bernama David
dan Svea Flood?"
Pengkotbah kulit hitam ini menjawab, "Ya, Svea adalah

orang yang membimbing saya kepada Tuhan waktu
saya masih anak-anak.
Mereka memiliki bayi perempuan tetapi saya tidak
tahu
bagaimana keadaannya sekarang." Aggie segera
berseru: "Sayalah bayi
perempuan itu! Saya adalah Aggie - Aina!"
Mendengar seruan itu si
Pengkotbah segera menggenggam
tangan Aggie dan memeluk sambil menangis dengan
sukacita.
Aggie tidak percaya bahwa orang ini adalah bocah
yang dilayani ibunya. Ia
bertumbuh menjadi seorang penginjil yang melayani

bangsanya dan pekerjaan
Tuhan berkembang pesat dengan 110.000 orang
Kristen, 32 Pos penginjilan,
beberapa sekolah Alkitab dan sebuah rumah sakit
dengan 120 tempat tidur.

Esok harinya Aggie meneruskan perjalanan ke
Stockholm
dan berita telah tersebar luas bahwa mereka akan
datang. Setibanya di
hotel ketiga saudaranya telah menunggu mereka di
sana dan akhirnya Aggie
mengetahui bahwa ia benar-benar memiliki saudara
lima orang. Ia bertanya
kepada mereka:
"Dimana David kakakku ?" Mereka menunjuk seorang
laki-laki yang duduk sendirian di lobi. David Jr.
adalah
pria yang
nampak kering lesu dan berambut putih. Seperti
ayahnya, iapun dipenuhi
oleh kekecewaan,
kepahitan dan hidup yang berantakan karena alkohol.

Ketika Aggie
bertanya tentang kabar ayahnya, David Jr. menjadi

marah. Ternyata semua
saudaranya membenci
ayahnya dan sudah bertahun-tahun tidak
membicarakan
ayahnya. Lalu Aggie bertanya: "Bagaimana dengan
saudaraku perempuan?"
Tak lama kemudian saudara
perempuannya datang ke hotel itu dan memeluk Aggie

dan berkata:

"Sepanjang hidupku aku telah merindukanmu.
Biasanya
aku membuka peta dunia dan menaruh sebuah mobil
mainan yang berjalan di
atasnya, seolah-olah aku sedang mengendarai mobil

itu untuk mencarimu
kemana-mana. " Saudara perempuannya itu juga telah

menjauhi ayahnya,
tetapi ia berjanji untuk membantu Aggie mencari
ayahnya.

Lalu mereka memasuki sebuah bangunan tidak
terawat.
Setelah mengetuk pintu datanglah seorang wanita dan

mempersilahkan mereka
masuk. Di dalam ruangan itu penuh dengan botol
minuman, tapi di sudut
ruangan nampak seorang terbaring di ranjang kecil,

yaitu ayahnya yang
dulunya seorang penginjil.
Ia berumur 73 tahun dan menderita diabetes, stroke

dan
katarak yang menutupi kedua matanya. Aggie jatuh
disisinya dan
menangis, "Ayah, aku adalah si kecil yang kau
tinggalkan di Afrika."
Sesaat orang tua itu menoleh dan memandangnya.
Air mata membasahi
matanya, lalu ia
menjawab, "Aku tak pernah bermaksud
membuangmu, aku hanya tidak mampu
untuk mengasuhnya lagi."
Aggie menjawab, "Tidak apa-apa, Ayah. Tuhan telah

memelihara aku".

Tiba-tiba, wajah ayahnya menjadi gelap, "Tuhan tidak

memeliharamu! " Ia mengamuk. "Ia telah
menghancurkan seluruh keluarga
kita! Ia membawa kita ke Afrika lalu meninggalkan

kita. Tidak ada satupun
hasil di sana.
Semuanya sia-sia belaka!" Aggie kemudian
menceritakan
pertemuannya dengan seorang pengkotbah kulit hitam

dan bagaimana
perkembangan penginjilan di Zaire.
Penginjil itulah si anak kecil yang dahulu pernah

dilayani oleh ayah dan ibunya. "Sekarang semua
orang mengenal anak kecil,
si pengkotbah itu.
Dan kisahnya telah dimuat di semua surat kabar."
Saat itu Roh Kudus
turun ke atas David Flood. Ia sadar dan tidak sanggup

menahan air mata
lalu bertobat.
Tak lama setelah pertemuan itu David Flood
meninggal,
tetapi Allah telah memulihkan semuanya, kepahitan

hatinya dan
kekecewaannya.

Pesan ini ditujukan kepada semua orang yang merasa

bahwa ia berhak untuk marah kepada Tuhan!
***

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam

segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi
mereka
yang mengasihi Dia… (Roma 8:28)

"FirmanMu Pelita bagi kakiku dan Terang bagi jalanku"

-

Posted in Religion | No Comments »

Laporan Khusus: Open Doors Mengenai Tiga Guru Sekolah Minggu Dibalik Penjara

December 29th, 2007 by hansherald

Tiga Guru Sekolah Minggu- Dr Rebekka Zakaria, Eti Pangesti dan Ratna Bangun - terus bersinar bagi Kristus satu tahun setelah masa hukuman tiga tahun penjara di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Indramayu, Jawa Barat, Indonesia.

Didakwa tidak adil berusaha memurtadkan anak-anak Muslim yang dengan kemauan sendiri menghadiri program pendidikan Kristiani yang mereka adakan, tiga wanita itu telah menjadi kesaksian luar biasa bagi 12 tahanan wanita lain dengan kepercayaan dan iman mereka yang tenang kepada Tuhan. Terdapat begitu banyak kekacauan di bagian tahanan wanita sebelum Rebekka, Eti dan Ratna datang, tapi sekarang semua wanita itu bisa berhubungan dengan baik. Para penjaga juga terkesima, dan mereka berdoa agar 400 tahanan pria di penjara itu juga dapat berubah dengan kehadiran Tuhan.

Berapi-api

Seorang pekerja Open Doors yang baru-baru ini mengunjungi tiga wanita itu berkata, "Daripada kami yang memberikan penghiburan kepada mereka, mereka adalah penghiburan luar biasa bagi kami! Wanita-wanita itu memancarkan banyak sukacita."

Iman mereka sudah terlihat jelas dari awal penahanan mereka, saat Ratna berkata kepada Open Doors, "Harapan saya tentu saja agar hakim membebaskan saya; tapi walaupun keputusannya tidak seperti itu, maka - seperti Daniel, Shadrakh, Mesakh dan Abednego - Saya akan terus mengasihi Tuhan lebih dari segalanya. Dia akan memberikan saya yang terbaik karena Dialah yang berkuasa."

Ratna menjelaskan bagaimana ayahnya yang berusia 78 tahun yang tinggal di Sumatra Utara juga bersandar kepada Tuhan di masa-masa sulit ini:

"Saya sangat takut dia akan terkejut mendengar kabar penahanan saya dan akan pingsan dan meninggal. Tapi saya lalu berpikir ‘Dia orang percaya, dia mengasihi Tuhan, jadi walaupun dia meninggal dia akan pergi ke surga.’

"Bapak saya akhirnya mengetahui penahanan saya melalui sadara perempuan saya. Ia bereaksi dengan mengatakan ‘Saya bangga atas anak perempuan saya atas penderitaan yang ia alami karena Kristus. Jadilah teguh, terus berjalan dalam kehendak Tuhan, terus menginjilkan kasih Kristus tanpa rasa takut. Dan sekarang saya akan berkeliling kampung dan memberitahu semua orang kalau anak saya ada di penjara dan saya bangga atas dirinya.’

"Pesannya kepada saya ini adalah yang paling hebat yang Tuhan kerjakan dalam hidup saya dan dia bilang ‘jangan berharap untuk keluar dari penjara terlalu cepat: selesaikan apa yang Tuhan tugaskan untuk kamu. Terus nyatakan Injil.’

"Saya percaya tidak ada rencana Tuhan di hatinya untuk menghancurkan kami atau menyebabkan ketidaksenangan dalam hidup kami, namun malah hanyalah untuk memperkaya kami, menguatkan kami, untuk kebaikan mereka yang mengasihi Dia.

"Adalah sebuah kehormatan menderita bagi Kristus … Dan Tuhan tidak pernah membuat kesalahan dalam kehidupan kita - tidak pernah."

Saat ditanya bagaimana reaksi anggota keluarga mereka, Rebekka berkata, "Pertamanya, keluarga saya terkejut ats penahanan itu. Tapi selama persidangan, keluarga saya dapat menerima fakta bahwa ini adalah sesuatu yang harus kita terima sebagai bagian dari hidup Kristen dan kesaksian kita."
Pada usia 39 tahun, Ratna adalah yang paling muda. Dia memiliki dua anak, yang paling muda usianya baru tiga tahun. Dia berkata "Mereka sangat merindukan saya, dan saya juga sangat rindu mereka; tapi kasih karunia Tuhan mencukupi. Joshua, anak tertua saya, terganggu tapi dia sudah berubah sikap terhadap penahanan saya dan sekarang kuat dan menerima.

"Saya benar-benar percaya bahwa ini adalah pekerjaan Tuhan dan hasil dari doa saudara dan saudari kami dari seluruh dunia."

Suaminya Sembiring sering bekerja jauh dari rumah, jadi anaknya saat ini tinggal bersama saudara perempuannya di Sumatra . Tahun lalu, Ratna hanya melihat mereka dua kali.

Saat ditanya apa yang akan dilakukan saat ia dibebaskan dari penjara, Ratna menjawab, "Saya ingin pulang ke rumah. Saya ingin bersama anak saya dan memeluk mereka. Saya juga mau melihat bapak saya lagi, dan menangis di dadanya. Itu adalah dua hal yang saya ingin lakukan."

Eti , usia 44, menikah dengan Sutrisno. Saat ditanya bagaimana keluarganya mengatasi penganiayaannya, dia berkata anak laki-lakinya yang paling terpengaruh:

"Dia takut dan juga sangat malu karena ibunya dipenjara. Anak-anak lain tentu saja mengejek dia."

Mereka punya dua anak (usia 20 dan 14) dan seorang anak laki-laki, berusia tujuh tahun. Suaminya bekerja sekaligus merawat anak-anak.

Rebekka, usia 48, menikah dan mempunyai seorang anak perempuan dan anak laki-laki yang keduanya belajar di universitas. Dia dan suaminya juga mempunyai anak adopsi bernama Linda, yang setiap hari menempuh 75 mil dengan motor bersama anak perempuannya yang masih kecil, untuk membawa makanan bagi mereka karena makanan penjara sangat buruk. Paul, seorang pekerja Open Doors dari Inggris Raya (UK), yang mengunjungi tiga ibu itu bulan Juni lalu berkomentar, "Saya sudah pernah berada di banyak negara dimana mengemudi sangatlah berbahaya, tapi ini benar-benar yang terparah. Kita harus mengingat Linda dalam doa-doa kita karena dia meresikokan nyawanya setiap hari untuk dapat mengantarkan makanan bagi mereka di penjara."

Rebekka adalah seorang dokter dan sekarang menggunakan keahlian medisnya dengan menyumbangkan bantuan kesehatan kepada sesama tahanan lain.

Pesan kepada Gereja

Kami bertanya kepada Eti yang dia akan katakan kepada orang Kristiani yang tidak berbagi pengalamannya dan dia menjawab, "Jika saya boleh memberikan pesan kepada Gereja yang belum mengalami penganiayaan, pesan saya adalah: nomor satu, terus berjalan bersama Tuhan. Kedua, jangan takut. Ketiga, nantikanlah penganiayaan."

Keterlibatan Open Doors

Open Doors menjalankan kampanye surat bagi Rebekka, Eti dan Ratna. Pada tahun lalu, mereka telah menerima 15.000 kartu dari seluruh dunia. Teman sepenjara mereka sangat tercengang akan kartu-kartu itu dan mengatakan, "Betapa orang Kristen menjaga satu sama lain dengan baik!"

Open Doors membayar pengacara bagi mereka dan pekerja Open Doors menghadiri persidangan- persidangan, termasuk yang terakhir pada Februari 2006.

Pekerja Open Doors terus mengunjungi tiga ibu itu di penjara dan melaporkan bahwa Rebekka, Eti dan Ratna meminta doa yang berkelanjutan

Injil Untuk Semua Bangsa
METAMORPHE Pengkabaran Injil via Internet
===="Jadikan semua bangsa muridKU" (Mat 28:19)====
Aku mengucap syukur kepada Allahku karena persekutuanmu dalam Berita Injil mulai dari hari pertama sampai sekarang ini. Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan
yang baik diantara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus. Fil 1:5

Posted in Religion | No Comments »